menit.online, TEGAL – Di tengah persaingan industri makanan yang semakin padat, Ahmad Saifuddin berhasil membangun identitas merek yang kuat melalui bisnis Seblak Byar-Byar. Bukan sekadar menjual makanan pedas khas Sunda, brand ini hadir dengan pendekatan modern, agresif, dan dekat dengan budaya digital generasi muda.
Mas Ahmad memilih bisnis seblak karena melihat potensi pasar yang sangat besar. Masyarakat Indonesia, terutama kalangan anak muda, masih menjadikan kuliner pedas sebagai salah satu kategori makanan favorit. Dengan orientasi bisnis berbasis hasil, ia memanfaatkan momentum tren tersebut untuk membangun usaha yang memiliki peluang pertumbuhan jangka panjang.
Alasan Pemilihan Nama Byar-byar
Nama “Byar-Byar” dipilih bukan tanpa alasan. Nama yang sederhana, unik, dan mudah diingat mampu menciptakan ikatan emosional dengan konsumen. Dalam era digital yang bergerak cepat, identitas merek yang kuat menjadi salah satu senjata utama untuk memenangkan perhatian pasar.
Namun perjalanan membangun bisnis ini tidak berjalan instan. Sebelum membuka gerai pertama, Mas Udin melakukan riset produk selama enam bulan penuh. Menariknya, ia memulai semuanya tanpa latar belakang bisnis kuliner sama sekali. Pengusaha muda asal Tegal tersebut hanya mengandalkan keberanian, rasa penasaran, dan tekad untuk belajar dari proses.
Mas Udin membutuhkan modal awal sekitar Rp130 juta untuk menyewa ruko dan membeli perlengkapan. Dalam kondisi terbatas, ia bahkan harus melakukan negosiasi pembayaran awal sebesar 18 juta rupiah kepada pemilik tempat usaha. Strategi keberanian mengambil peluang tersebut menjadi titik awal pertumbuhan Seblak Byar-Byar.
Hasilnya cukup mengejutkan. Pada bulan pertama operasional, omzet usaha langsung menyentuh angka 107 juta rupiah. Salah satu faktor pendorong terbesar berasal dari strategi pemasaran digital melalui influencer dan media sosial. Pendekatan ini berhasil menciptakan efek viral yang mempercepat proses pengenalan merek di pasar.
Menjaga Aspek Konsistensi Kualitas
Saat bisnis berkembang hingga memiliki enam cabang, tantangan berikutnya muncul pada aspek konsistensi kualitas. Untuk menjaga cita rasa tetap sama di setiap lokasi, Seblak Byar-Byar menerapkan sistem Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat. Semua karyawan wajib menerapkan budaya kerja yang telah ditentukan pusat agar pengalaman pelanggan tetap seragam.
Dalam hal ekspansi, Ahmad Saifuddin juga sangat selektif memilih mitra franchise. Ia menetapkan bahwa calon investor harus memiliki kondisi finansial yang aman dan sumber penghasilan tetap. Bahkan, perusahaan tidak memperbolehkan modal usaha yang berasal dari pinjaman bank. Manajemen menerapkan kebijakan ini agar pertumbuhan bisnis tetap sehat tanpa tekanan utang dan bunga.

Dari sisi positioning, Seblak Byar-Byar menargetkan pasar menengah modern, mirip pendekatan brand kopi kekinian. Tim manajemen memilih lokasi gerai berdasarkan tingkat keramaian dan kedekatannya dengan target konsumen utama, yaitu generasi Z perempuan yang aktif di media sosial.
Platform TikTok menjadi kanal pemasaran paling dominan. Melalui video pendek, promosi menu, hingga konten interaktif, brand ini mampu membangun koneksi emosional dengan audiens muda secara lebih efektif. Strategi digital tersebut memperkuat citra Seblak Byar-Byar sebagai brand kuliner yang relevan dengan era modern.
Tagline Berani Kencurnya, Berani Itu Gue
Meskipun persaingan industri kuliner sangat ketat, Seblak Byar-Byar menunjukkan diferensiasi yang jelas. Rasa kencur yang kuat menjadi identitas utama produk mereka. Seblak Byar-Byar menggunakan tagline “Berani Kencurnya, Berani Itu Gue” untuk mempertegas karakter merek yang berani, ekspresif, dan dekat dengan gaya hidup anak muda masa kini.
Di balik kesuksesannya sekarang, Ahmad Saifuddin pernah mengalami kegagalan besar pada tahun 2017. Pengalaman bangkrut tersebut menjadi pelajaran penting tentang kepemimpinan, kepercayaan terhadap tim, dan pentingnya membangun mental bisnis yang kuat.
Ke depan, Seblak Byar-Byar menyiapkan strategi ekspansi yang lebih futuristik melalui produk seblak instan kemasan. Langkah ini memungkinkan distribusi produk secara nasional tanpa harus membuka terlalu banyak cabang fisik. Banyak pengamat menilai model bisnis seperti ini lebih efisien dan scalable di era distribusi digital serta marketplace modern. Pada akhirnya, Ahmad berpesan bahwa membangun bisnis bukan hanya soal mencari keuntungan. Bisnis juga merupakan proses pertumbuhan diri, tempat seseorang belajar menghadapi tekanan, mengambil keputusan, dan membangun nilai hidup yang lebih besar dari sekadar uang.***
