Oleh: Ustad Ekrom Maftuhi, S.H.I., M.Ag., M.H.
Bakal Calon Ketua PCNU Kabupaten Bekasi
Kabupaten Bekasi adalah tanah yang diberkahi. Di atas tanah ini berdiri industri terbesar di Asia Tenggara, masyarakat pesisir yang tangguh, para santri yang tumbuh dengan tradisi, serta para pekerja yang menggerakkan roda ekonomi nasional. Namun berkat dan anugerah itu belum sepenuhnya diolah menjadi rahmat bagi semua. Pertumbuhan ekonomi yang besar belum sepenuhnya menjadi kesejahteraan yang merata.
Sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama dan seorang yang lahir dari tradisi pesantren, saya meyakini bahwa tugas kita bukan hanya menyuarakan kritik, tetapi menghadirkan jalan perbaikan. NU berdiri bukan untuk menjadi penonton keadaan, tetapi menjadi lentera perubahan di tengah masyarakat.
Bekasi Harus Dikelola dengan Nilai, Bukan Sekadar Angka, Kita sering mendengar tentang PAD, APBD, investasi, dan pertumbuhan industri. Namun kabupaten ini bukan hanya statistik. Ia adalah rumah bagi jutaan jiwa. Pengelolaan Bekasi harus berangkat dari nilai kemanusiaan dan keadilan sosial, sebagaimana prinsip al-maslahah al-‘ammah dalam khazanah fikih NU.
Pembangunan yang mengabaikan jiwa manusia akan kehilangan berkahnya. Sebaliknya, pembangunan yang berangkat dari nilai akan membawa manfaat yang luas.
NU Harus Hadir sebagai Penjaga Moral Keumatan, Perubahan sosial yang cepat sering kali membuat masyarakat kehilangan arah. Warga pekerja di kawasan industri menghadapi tekanan ekonomi; masyarakat pesisir menghadapi persoalan lingkungan; sementara generasi muda menghadapi krisis identitas.
NU harus hadir bukan sebagai simbol, tetapi sebagai: penuntun spiritual, pendamping sosial, dan pengawal moral kehidupan berbangsa.
Kepemimpinan PCNU Bekasi ke depan harus mampu menjadi ruang teduh umat di tengah guncangan zaman. NU harus kembali menjadi pelabuhan hati, tempat masyarakat mencari bimbingan, ketenangan, dan solusi.
Kebijakan Daerah Harus Menyentuh Warga Paling Rentan, Masih banyak warga Bekasi yang hidup dalam ketidakpastian: pekerja harian, buruh pabrik, petani pesisir, nelayan tradisional, dan warga yang tinggal di wilayah pinggiran.
Pemerintah daerah wajib mengarusutamakan:perlindungan tenaga kerja,akses pendidikan untuk keluarga buruh,penguatan layanan kesehatan,dan jaminan sosial berbasis komunitas.
NU harus menjadi mitra kritis yang membantu pemerintah, bukan untuk mencari panggung, tetapi demi menghadirkan keadilan yang berpihak.
Investasi Besar Harus Melahirkan Kesejahteraan yang Merata, Investasi industri di Kabupaten Bekasi sangat besar, tetapi pertanyaan dasarnya sederhana: “Apakah manfaatnya sudah kembali kepada rakyat?”
Sering kali industrialisasi meninggalkan: ketimpangan ekonomi, masalah lingkungan, dan kesibukan kota tanpa keseimbangan rohani.
Sebagai calon ketua PCNU, saya meyakini NU perlu menjadi penghubung: antara dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat. Konsep Fiqhi al-bi’ah (fikih lingkungan), Fiqhi sosial, dan Fiqhi madani dapat dijadikan landasan dialog kebijakan yang lebih manusiawi.
Anak Muda Bekasi Harus Mendapat Ruang Besar dalam NU, Generasi muda Bekasi kreatif, energik, dan memiliki kecerdasan digital. PCNU ke depan harus membuka pintu seluas-luasnya bagi mereka. NU tidak boleh hanya diisi oleh wajah lama. NU harus menjadi wadah regenerasi dan ruang inovasi.
Jika NU ingin relevan di masa depan, maka NU harus merangkul: aktivis, muda, mahasiswa, akademisi, konten kreator, serta para profesional.
Bekasi membutuhkan NU yang maju, inklusif, digital, dan responsif. Mengembalikan Tradisi Keilmuan dan Keulamaan, NU tidak boleh kehilangan ruhnya: tafaqquh fid-dîn, kedalaman ilmu, adab, dan keikhlasan.
Kita harus menghidupkan kembali: halaqah ulama, bahtsul masail, kajian kitab kuning,serta forum pemikiran sosial keagamaan.
Dengan ilmu dan adab, kita dapat mengurai masalah masyarakat dengan hikmah dan kebijaksanaan.
Bekasi bukan sekadar wilayah industri, tetapi rumah besar umat. Karena itu, NU harus menjadi pilar moral, pemandu perubahan, dan sahabat bagi semua golongan. Kita tidak ingin NU dipisahkan dari realitas masyarakat, tetapi justru berada di tengah denyut nadi kehidupan mereka.
Jika amanah memanggil, maka saya – Ustad Ekrom Maftuhi, S.H.I., M.Ag., M.H. – siap mengabdi bukan sebagai penguasa jam’iyah, tetapi sebagai khādim al-ummah, pelayan umat. Karena kepemimpinan dalam NU bukan soal jabatan, melainkan tentang pengabdian, kebermanfaatan, dan keberkahan.
